Saul Newman

. Teks aslinya berjudul “

Insurrection

or Revolution?

”. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Taratsa.

Pada saat narasi besar tentang Revolusi yang kita warisi dari modernitas dan diskursus rasionalis Pencerahan hampir runtuh, apa alternatif yang ada untuk mengonseptualisasikan transformasi radikal? Meski tidak adanya kelas atau gerakan revolusioner yang terorganisir, pada saat yang sama kaum kiri tidak mampu berpikir melampaui gagasan emansipasi revolusioner. Kegagalan imajinasi radikal inilah yang mungkin menjadi alasan kebuntuan politik yang dihadapi kaum kiri saat ini.

Karena tidak mampu menciptakan perubahan yang bermakna, kaum kiri malah terjebak dalam “perang budaya” dan terlibat dalam politik identitas melawan kaum kanan yang jauh lebih terampil memainkan permainan ini. Dogmatisme puritan dan semangat keagamaan yang mengiringi perdebatan tanpa akhir tentang identitas gender, ras, inklusi kaum marginal, dan sebagainya menunjukkan kelelahan tertentu dari horizon politik radikal.

Menjadikan politik didasarkan pada pengakuan identitas, di satu sisi, dan janji masa depan tentang keselamatan revolusioner, di sisi lain, berarti jatuh ke dalam perangkap kekuasaan negara. Negara difetiskan baik sebagai entitas yang memberikan hak dan status hukum kepada minoritas, maupun sebagai musuh yang harus ditaklukkan agar kebebasan dapat diwujudkan—ilusi yang, sebagaimana ditunjukkan oleh sejarah revolusi, hanya menghasilkan negara-negara baru dan bentuk-bentuk despotisme baru.

Mungkin sudah waktunya untuk meninggalkan “bayangan (spooks)” identitas dan revolusi, serta memikirkan subyektivitas dan politik dengan cara yang berbeda. Di sinilah saya mengusulkan untuk kembali pada filsuf anarkis egois abad ke-19, Max Stirner. Dalam karya

The Ego and Its Own

(

Der Einzige und sein Eigentum

), yang diterbitkan pada tahun 1844, Stirner mengusulkan bentuk aksi politik alternatif yang ia sebut “Insureksi” (

Insurrection

atau

Empörung

), yang ia bandingkan dengan Revolusi.

Jika Revolusi adalah proyek yang bertujuan mengubah hubungan sosial dan politik eksternal, maka insureksi adalah transformasi diri. Ini adalah cara bagi individu untuk mengatasi kepatuhan sukarela dan identifikasinya dengan otoritas. Dengan demikian, insureksi tidak menutup kemungkinan terjadinya perubahan sosial dan politik yang lebih luas, tetapi perubahan tersebut didasarkan pada tindakan awal pembebasan diri ini—perubahan dalam cara kita berhubungan dengan diri sendiri dan orang lain.

Sebagaimana dikatakan Stirner, insureksi memiliki konsekuensi tak terhindarkan berupa transformasi keadaan, “namun tidak dimulai dari keadaan tersebut, melainkan dari ketidakpuasan manusia terhadap dirinya sendiri.” Dengan demikian, insureksi dapat dilihat sebagai bentuk emansipasi diri yang radikal. Insureksi tidak dipandu atau ditentukan oleh pelopor revolusioner atau partai-partai, dan ia tidak berusaha merebut serta mengendalikan kekuasaan negara.

Sebaliknya, ia secara radikal anti-institusional: “Revolusi bertujuan pada pengaturan baru; insureksi membawa kita untuk tidak lagi diatur, tetapi mengatur diri kita sendiri, dan tidak menggantungkan harapan pada ‘institusi’.” Negara tidak dilihat sebagai instrumen transformasi sosial, atau bahkan sebagai hambatan utama kebebasan individu. Insureksi menolak fetisisasi kekuasaan negara ini. Individu egois harus menegaskan dirinya di atas negara; ia tidak lagi melihat negara, baik dalam kekaguman maupun ketakutan (dua sisi mata uang yang sama), melainkan hanya pada dirinya sendiri.

Gagasan unik tentang insureksi ini adalah bagian kunci dari proyek filosofis dan etis egoisme Stirner. Bagi Stirner, di dunia yang penuh dengan “bayangan (spooks)” atau abstraksi ideologis dan ideal-ideal metafisik—seperti kemanusiaan, moralitas, kebebasan, hak, masyarakat, hukum, dan negara—yang merupakan sisa-sisa dari agama namun terus menghantui kita, ego adalah satu-satunya realitas konkret, satu-satunya hal yang nyata dan dapat disentuh.

Namun, apa sebenarnya yang dimaksud Stirner dengan ego? Kesalahan umum adalah ketika menyamakannya dengan “individu,” seperti yang sering dilakukan dalam diskursus liberal dan libertarian. Ego jauh lebih cair dan menghindari semua kategorisasi semacam itu atau gagasan “tetap” lainnya. Faktanya, kita dapat mengatakan bahwa ego adalah semacam non-identitas radikal yang tidak dapat dikaitkan dengan bentuk subjektivitas apa pun atau ditentukan oleh karakteristik esensial apa …